Kursi Kosong
Di pagi yang penuh tanya. Sambil melipat tangannya. Di teras depan rumahnya. Ia berdiri menyandarkan tubuhnya di sebuah pintu yang engselnya terbuat dari potongan-potongan ban mobil bekas. Yang kebetulan di ambilnya dua minggu yang lalu dari tetangganya. Dan kebetulan juga tetangganya bekerja sebagai mekanik ban atau lebih tepanya tukang tambal ban. Ia memandangi kursi yang berjejer di teras rumahnya. Ada lima kursi, tiga kursi membelakangi dinding rumah dan yang dua kursi lagi menghadap di bagian ketiga kursi itu. Hanya di batasi sebuah meja kecil yang di ambilnya dari rumah mertuanya untuk menaruh seluruh pelengkap warna warni pagi semisal kopi dan pisang goreng. Setiap pagi ia di gerayangi tanya, kenapa kelima kursi itu ada satu kursi yang paling berbeda? Kursi yang paling pojok. Kenapa setiap orang yang datang bertamu tak pernah duduk di kursi itu? Bahkan pernah, serombongan kawan datang berkunjung sekitar Sembilan orang. Tak pernah seorang pun duduk di kursi itu. Mereka rela...