Kursi Kosong
Di pagi yang penuh tanya. Sambil melipat tangannya. Di teras depan rumahnya. Ia berdiri menyandarkan tubuhnya di sebuah pintu yang engselnya terbuat dari potongan-potongan ban mobil bekas. Yang kebetulan di ambilnya dua minggu yang lalu dari tetangganya. Dan kebetulan juga tetangganya bekerja sebagai mekanik ban atau lebih tepanya tukang tambal ban.
Ia memandangi kursi yang berjejer di teras rumahnya. Ada lima kursi, tiga kursi membelakangi dinding rumah dan yang dua kursi lagi menghadap di bagian ketiga kursi itu. Hanya di batasi sebuah meja kecil yang di ambilnya dari rumah mertuanya untuk menaruh seluruh pelengkap warna warni pagi semisal kopi dan pisang goreng.
Setiap pagi ia di gerayangi tanya, kenapa kelima kursi itu ada satu kursi yang paling berbeda? Kursi yang paling pojok. Kenapa setiap orang yang datang bertamu tak pernah duduk di kursi itu? Bahkan pernah, serombongan kawan datang berkunjung sekitar Sembilan orang. Tak pernah seorang pun duduk di kursi itu. Mereka rela berdempetan di kursi yang lain asalkan kursi yang paling pojok tak di sentuh oleh pantatnya. Bahkan ia pun walau sudah dua puluh lima tahun mengontrak rumah itu tak pernah biar sedetik untuk menaruh pantatnya di benda yang aneh itu.
Kursi itu sudah berabad-abad tinggal di rumahnya, bahkan kursi itu lebih tua dari yang pemilik rumah. Kalau seandainya kursi itu bisah bicara, dia akan menceritakan sejarah perkembangan manusi di negri ini. Sudah berganti-ganti wajah manusia yang tinggal di rumah ini namun kursi itu tetap kosong dan tempatnya tak bergeser walau hanya semilimeter pun.
Konon menurut cerita dari orang-orang yang pernah tinggal di rumah ini. Waktu di jaman kerajaan. Ada sebuah desa hanya beberapa kilomenter dari istana kerajaan. Di desa itu, ada sekitar sepuluh buah rumah. Tak pernah di temukan sebuah kursi di dalam rumah maupun di halaman rumah. Para penduduk desa terbiasa duduk melantai, walaupun di acara pesta perkawinan, acara halal bihalal, dan lain sebagainya tetap mereka melantai. Apalagi kalau hanya nongkrongan di waktu sore, orang-orang kalau bosan berdiri mereka hanya mencari daun untuk mangalasnya di tanah untuk mereka duduk.
Di kota, mereka sangat mudah di kenal, ketika makam di warung. Orang biasanya duduk di kursi yang sudah di sediakan, tapi mereka lebih memilih lantai dan duduk bersila. Di keramain juga misalnya, atau lagi menonton acara lomba yang sering kerajaan adakan setiap setahun sekali. Mereka mudah sekali di kenalinya, memang wajah-wajah penduduk kerajaan itu mirip. Tapi kalau yang dari desa itu ketahuan sekali bila melihat celananya yang di bagian pantatnya.
Suatu hari, Raja sering mendengar orang-orang menggunjingkan desa itu. dan Raja akhirnya penasaran. Ia memanggil seorang utusan agar menuliskan surat untuk kunjungannya nanti di desa itu.
Kemudian utusan berangkat membawa sepucuk surat. Sesampainya di desa itu ia langsung menemui kepala desa dan memberikan apa yang telah Raja amanhkan. Tampa menunggu utusan dari Raja pergi ia membuka surat itu. hanya beberapa kalimat begini; “SEMINGGU LAGI AKU MAU DATANG BERKUNJUNG, TOLONG BAUTKAN AKU KURSI YANG DARI KAYU JATI”,. Begitulah isi suratnya. Setelah utusan raja berpamitan pulang, kepala desah segera membuat rapat dadakan. Seseorang dari desa itu tampa menunggu lama segera berangkat mencari kayu jati dan yang lainnya membersihkan seluruh sudut-sudut desa.
Setalah mendapatkan kayu jati, kepala desa menyewa tukang orang Cina yang tinggal di kota. Orang Cina itu dengan iramanya memainkan palu dan gergaji di atas balok-balok kayu jati. Dan kusri pun telah jadi, hampir sama seperti kursi seorang Raja yang ada di istana. Memang Raja yang datang harus di buat agak mirip.
Seminggu kemudian, di pagi yang penuh kecerian. Datanglah Raja bersama rombongannya. Kemudian kepala desadengan gugupnya menyambutnya dan berkata “pesan baginda telah hamba penuhi”. Raja pun berjalan dan di dampingi kepala desa menuju lapangan itu. kemudian raja menuju ke kursi yang telah di siapkan utnuknya. Setlah sampai di hadapan kursi itu, Raja belum juga duduk di kursinya. Ia memandangi penduduk desa itu. taka da seseorang pun yang berdiri, semuanya duduk tak beralaskan daun atau pelapak daun kelapa. Raja akhirnya percaya terhadap orang-orang yang pernah membicarakan desa itu. ternyata benar.
Karena menghormati para penduduk desa dan kepala desa. Raja memilih duduk di atas dengan kepala desa beserta para penduduk desah itu. semua yang menyaksikan itu sejenak membisu kala itu. kepala desa terheran-heran. Hanya beberapa pidato saja Raja sampaikan pagi itu dan sumbangan-sumbangan kecil. Kemudian Raja beserta rombogannya berpamitan peulang ke istana. Semenjak dari hari tiu, kemudian orang-orang-orang Eropa datang dan sampai juga di jaman Corona ini, kursi itu tetap kosong. Nanti orang Arab, seorang pedagan kurma yang mendirikan rumah di sekitar itu tepatnya setelah kerajaan itu runtuh
****
Di pagi itu juga, ia membiarkan rambutnya di acak-acak oleh angin. Pandangannya selalu tertuju pada sebuah benda aneh itu, namun selalu kosong setiap hari. Ia baru sadar selama ia setelah menikah dan mengontrak rumah itu. Ternyata sebuah keganjalan telah merenggut keanehan dalam dirinya. Sebuah kursi yang penuh misteri itu kata tetangganya. “Lagi-lagi misteri, aku sedikit pun tak percaya.” Gumamnya dalam hati. “Tapi beberapa hari yang lalu aku menemani temanku menjaga kuyang datang karena istrinya sedang hamil, di situ aku sedikit percaya tentang misterius dan sialnya aku ketakutan.” Gumamnya lagi sambil senyum-senyum membayangkan ketololannya.
Dirasakan bau asam tubuhnya akibat angin mengirimkannya kehidungnya. Ia bergegas masuk kedalam rumah mengambil handuk dan mandi. Setelah mandi ia berpamitan sama istrinya untuk pergi kedukun mau menanyakan perihal kursi yang selalu kosong dan tak pernah di sentuh oleh siapa pun di rumah mereka.
Tak jauh dari rumah mereka, ia masuk kesebuah rumah. Pemilik rumah itu adalah dukun yang telah berumur dua ratus tahun tapi masih kakak kursi itu juga. Ia bercerita tentang kejanggalan di rumahnyadan. Agak lama ia bercerita, kemudia si dukun segera mengatur jadwal. Keesokan harinya dukun itu datang, kemudian memantau seluruh kursi itu dari kaki, tempat duduknya, sandaranya dan kemudian lengan kursi. Tapi yang anehnya lagi si dukun tak ada niat mau duduk di kursi itu atau yang punya rumah juga mau suruh si dukun untuk duduk di kursi itu pun tidak sama sekali. Seakan-akan kursi itu menghilangkan niat orang atau bisa dikatakan bisa menghipnotis orang. Sekelas dukun saja bisa di buat hilang akal dan si dukun lebih memilih duduk di kursi yang lain. Kemudian dukun itu meminta air segelas dan di bacakan mantra agar menguak siapa penghalang kursi itu sebenarnya. Dan sesudah membacakan mantra ia bebicara kepada pemilik rumah. “Sebentar malam buatlah acara perkumpulan di rumahmu, siapa tau setelah aku membacakan mantra ini, kursi itu sudah bisa di pakai.” Ternyata hasilnya nihil, satu kota yang datang di rumah itu tak seorang pun yang duduk di kursi misteriitu.
Keesokan harinya, tanpa menunggu pagi membangunkannya. Ia tak putus asa pergi mencari dukun lain, tetapi tetap hasilnya nihil. Berbagai negera ia lalui hanya untuk mendatangkan dukun, namun tak membuahkan hasil. Kursi masih kosong, tanpa debu mengotorinya.
Akhirnya, ia memberanikan diri untuk menemui seorang ustadz yang pernah menegurnya akibat perbuatannya yang setiap hari berjudi. Waktu itu di dalam masjid. Karena ada keperluan dengan ustadz ia terpaksa menemui ustadz di dalam masjid dan menunaikan sholat zuhur bersama yang lain kebetulan juga yang mengimami adalah ustadz yang sedang ia cari. Setelah selesai sholat ia menemui ustadz setelah jamaah yang lain sudah pada pulang kerumahnya masing-masing. Berceritalah ia sama seperti ia ceritakan di dukun-dukun itu. “Baiklah, aku akan mampir di rumahmu dan mari kita langsung pulang saja.” Begitulah kata si ustadz menyetujui ceritanya.
Hanya berjarak beberapa rumah saja dari masjid, ia dan si ustadz berjalan di bawah terik matahari, tetesan keringatnya tak sampai membasahi pakaiannya sampailah di rumah pemilik kursi kosong itu. Si ustadz berbeda dengan dukun-dukun itu, si ustadz hanya mengamati dan tak berkomentar apa-apa. Si pemilik kursi kosong masih di rudung kebingungan, apa yang ustadz lakukan. “Mungkin bukan jurusannya.” Gumamnya dalam hati. Lama si ustadz mengamati akhirnya ia pulang dari rumah itu tanpa memberi tahu apa-apa.
****
Sebulan telah berlalu, berbagai dukun dan ustadz di bawah di rumahnya tak memberikan hasil biar sedikit pun. Setiap pagi ia masih saja mengamati benda misteri itu, Benda yang begitu lama, benda yang selalu abadi di sepanjang jaman menumpang di rumahnya. Kenapa pedagang arab itu tak membuangnya saja waktu itu? atau setelah pedagang yang dari negeri padang pasir itu pergi siapa yang tinggal di rumah ini? Menurut cerita dari mertuanya yang sekarang telah berumur seratus tahun lebih. Ada tentara Belanda tinggal di rumah itu. Dia berpangkat sersan mayor. Mungkin tentara itu sudah yang tinggal di rumah itu setelah pedagang Arab pergi.
Tentara itu, membeli rumah itu dari orang pribumi, mungkin bisa saja setelah pedagang Arab itu pergi dia menjualnya di orang setempat. Berarti setelah orang Arab itu pergi, bukan tentara itu yang mendiami rumah itu tapi orang pribumi. Tapi kalau menurut cerita dari kakak mertuanya yang hanya berjarak dua tahun dari mertuanya, orang Arab itu hanya menitipkan kunci rumah. Namun orang Arab itu tak pernah kembali, apalagi mendengar orang Belanda telah masuk.
Kembali kecerita mertuanya. Nah, ketika tentara itu mendiamirumah itu, ia tak sadar kalau kursi itu tak pernah ia mendudukinya. Bahkan rumah itu di jadikan tempat menampung orang-orang dari Belanda yang belum mendapatkan rumah. Tapi, barang seorang pun yang duduk di kursi itu tak ada.
****
Sepulang menjemput istrinya di sore hari, ia kembali melamun di samping kursi di teras rumahnya. Tatapannya kosong, hanya beberapa tema saja yang mengisi kepalanya. Sebentar ia kembali kedalam rumah sekedar membuat kopi kemudian kembali lagi ke teras depan.
“O, o, ya o ya o ya bongkar…”
“O, o, ya o ya o ya bongkar…”
Ia di kejutkan seseorang menyanyikan lagunya Iwan Fals di depan rumahnya. Orang itu memakai baju sepertinya baju pemberian dari Partai ketika kampanye beberapa tahun yang lalu. Walaupun tulisan-tulisannya sudah terhapus beberapa huruf tapi ia masih suka mengenakannya. Celananya kalau tidak salah warnanya hitam tapi karena sudah beberapa periode tak mencucinya maka warnanya berubah menjadi abu-abu katanya pemilik kursi kosong itu. Tanpa pengalas kaki ia berjalan berkeliling di dalam kota sambil menyanyikan lagu Bongkar yang di ciptakan oleh Iwan Fals.
Pemilik rumah segera masuk kembali kedalam rumahnya, ia masuk kekamarnya dan berpikir. Kenapa baru kali ini ada pengamen datang di rumahnya, dengan beberapa uang receh di meja rias istrinya ia mengambilnya kemudian memberikan kepada pengamen itu. “Maaf pak, aku bukan pengamen.” Kata orang itu. “Jadi kenapa kamu bernyanyi di depan rumahku?” “Aku hanya penghibur orang yang lagi kebingungan.” Kata orang itu lagi.
Ia memandangnya dengan sinis. Siapa orang ini sebenarnya, pengamen bukan, pengemis kelihatannya mungkin tapi sepertinya orang ini akan marah bila ia menyebutnya pengemis. Tapi kemudian dengan rasa iba, ia memanggilnya duduk di teras rumahnya dan menanyakan asal orang ini.
“Kamu dari mana..?”
“Aku adalah utusan untuk mengobati orang-orang yang bingung seperti bapak.”
“Utusan dari mana…?
“Aku utusan dari Raja. Aku akan menyampaikan sebuah pesan dari Raja.”
“Pesan apa itu kalau boleh tau.”
Lama orang itu terdiam, sambil memandang di kursi yang berbeda itu kursi kosong yang membuat pemilik rumah kebingungan. Orang itu berdiri dan berkata: “Kalau bapak ingin duduk di kursi itu, bapak harus pandai mendongeng. Bila satu kota ini sudah tertidur bapak akan dengan mudah mendudukinya.” “Lantas, bagaimana jika orang tak ada yang tidur?” Tanyanya sedikit tak percaya dengan omongan orang itu. “Bapak harus memberi mereka uang kalau mendongeng. Permisi.” Kemudian orang itu pergi dari rumah itu entah kemana karena malam sudah mulai menyambut dan menutupi penglihatan.
Di malam hari ia susah tidur, karena memikirkan orang yang aneh tadi. Masa dengan pakaian yang lusuh dia adalah utusan dari raja. Berkali-kali ia membalikkan badannya tapi tak bisa ia melangkah di alam mimpinya. Ia melihat lampu yang masih menyala, mungkin matanya silau akan lampu kamarnya yang warna putih itu ia bangkit dan tangannya menuju ke saklar lampu. Tapi begitu pun tak kunjung terpejam matanya, gelisah menyurunya harus tak tidur. Ia tengkurap lagi, baru mau masuk di dunia mimpi ia di bangunkan rasa buang air kecil yang rasanya sudah di ujung tanduk. Ia bangkit lagi dan menuju ke kamar kecil, setelah balik dari kamar kecil ia susah tidur lagi. Gelisah kembali mengganggunya, beruntung ia memainkan puting susu istrinya yang mengintipnya dari balik dasternya. Barulah ia benar-benar tidur dan dengkurnya saja tak ia dengar lagi.
Di dalam mimpinya ia melihat orang-orang dari berbagai penjuru kota dan dari kota-kota lain juga datang di rumahnya untuk memperebutkan kursi itu. Ada yang menenteng baliho, bendera dan memakai kaos yang serupa dengan bendera dan baliho. Bermacam-macam bendera dengan warna yang berbeda. Ada yang warnanya hijau, merah, putih, dan ada pula warna yang sama tapi tulisan-tulisannya berbeda. Ia menyaksikan itu dengan takjub, seperti orang kampanye yang ia lihat waktu beberapa tahun yang lalu. Ada yang berteriak, ada yang bernyanyi, mereka seperti tampak semangat dalam mendukung warna-warna benderanya.
Jam lima subuh ia bangun, melihat istrinya yang masih tidur ia segera mandi dan setelah itu ia membuat sarapan sendiri. Karena pertimbangan antara orang yang datang kemarin sore dan mimpi yang semalam ia harus berdongeng di pagi ini. Ia sepertinya setuju dengan pendapat orang kemarin itu. Sehabis sarapan ia bangunkan istrinya dan meminta izin untuk pergi berdongeng di sekitar kota. Sebelum ayam turun dari kandangnya ia pun segera berangkat menyusuri jalan-jalan sepi di kota itu. Yang ia temui hanyalah orang-orang yang membersihkan jalanan.
Di mulut gang memuntahkan para pengais rezeki. Ada beberapa tukang becak di gang sebelah utara keluar sambil mengayunkan becaknya. Sesekali mereka mengacungkan jari telunjuknya ke atas sebagai bentuk menawarkan tumpangan bila ada seseorang yang duduk-duduk di halte. Di samping gang itu juga ada gang kecil keluar beberapa orang sepertinya mereka hendak menunggu becak untuk berankat kekantor. Tak menyia-nyiakan kesempatan ia memulai dongengnya dengan para tukang becak yang sedang mangkal di depan gang. Kemudian ia pindah lagi ke tukang ojek. Menjelang matahari tepat di atas kepala ia menghampiri sopir angkot untuk di berikan dongeng. Tak lupa ia berikan sedikit plus biar dongengnya dapat di dengarkan. “Jaman sekarang mendongeng harus kita bayar pendengar.” Gumamnya dalam hati.
Di sore hari ia menyewa lapangan sepak bola untuk mengumpulkan orang-orang agar ia bisa mendongeng dengan leluasa. Ia menyewa souds system biar suaranya terdengar di berbagai pelosok kota bahkan di desa-desa pun terdengar. Keespkan harinya ia menyewa beberapa truck untuk mereka pawai keliling-keliling kota. Ia begitu piawai dalam mendongeng, ia benar-benar mengikuti orang yang pernh datang di rumahnya itu sambil menyanyikan lagunya Iwan Fals. Ia juga tak lupa memberikan sedikit plus tambahan biar orng-orang yang datang mendengarkan dongengnya tak merasa kehausan walaupun sebenarnya ia telah kehausan.
Berbulan-bulan ia jalankan aksinya tanpa merasa lelah, ia begitu gigih dalam berbicara. Setiap ia temui di jalan atau orang yang lewat di depan rumahnya ia dongengkan barang sedikit. Di rumahnya kadang berkali-kali orang datang karena ketagihan dongengnya maka ia pun tak berat hati melayaninya, sebelumnya ia buatkan kopi dan kalau lapar ia berikan makan. Begitulah ia cara melakukan ritual agar ia bisa duduk di kursi misterius itu. Setelah ia sudah terkenal di satu kota bahkan sampai di desa-desa, ia membuat gambar dengan wajahnya sendiri dengan ukuran besar. Kemudian ia pajang di perempatan jalan, di pinggir-pinggir jalan, kadang setiap masuk gang-gang gambarnya ada di sana di gantung di atas gapura. Memang begitu terkenalnya ia. Setelah semuanya telah rampung dan orang-orang mulai tertidur, ia pun segera pulang kerumahnya. Di malam hari ia membayangkan akan kursi kosong itu, apa memang benar pengamen itu. Ia kembali gelisah tapi tak lama ia tertidur.
Ia agak terlambat bangun pagi, padahal matahari sudah mengetuk-ngetuk jendela kamarnya namun kantuk masih berat. Di balik kain jendela kamarnya samar-samar ia melihat di bagian timur cahaya matahari tampak ogah dengannya. Tampaknya hari ini akan hujan, tetapi ia keluar dari kamarnya menuju ke teras rumahnya ternyata hanyalah mendung biasa. Ia melihat kekursi misteri itu, perlahan-lahan ia melangkah dengan agak berat kakinya. Tepat di depan kursi misteri itu ia terdiam tak percaya akan keberhasilannya selama ini. Selama berabad-abad baru kali ini merasakan empuknya kursi yang terbuat dari kayu jati itu. Kursi seorang raja di jamannya namun raja tak menggunakannya dan baru kali ini ia menggunakannya di awal pagi. Ia sangat gembira, sangking gembiranya ia lupa kalau ia belum mandi, ia nikmati kursi itu. Istrinya pun muncul dari dalam rumah dengan membawa segelas teh. Dengan sedikit berbisik istrinya berkata kepada suaminya: “Selamat yah Pak sudah terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat.”
Ambon, 6 November 2021
Juwail suludha
Komentar
Posting Komentar