Kota Para Koruptor
Kota para koruptor
Kota-kota tanpa masa lalu sedang berjuang melawan sisa-sisa kenangan yang mengepung tiap sudut perasaan yang sedang hancur, mencoba mengumpulkan puing-puing ingatan untuk segala yang pernah melintas di kepala. Di balik dinding kamar suaramu meracau seraya mendesir, karena suara tembakan yang kini sedang siap mencari korban untuk menembus bagian tubuh mana yang akan menjadi sasaran untuk kita. Diluar peluru-peluru sedang melesat memburu seluruh yang ia anggap pantas. Ia tak meninggalkan jejak kecuali mati, kematian baginya adalah sesuatu yang menyenangkan betapa tidak cepat atau lambat kematian hanya perkara waktu untuknya. Semenjak ia ditinggal kekasihnya, hidupnya selalu dirundung peperangan. Tak ada yang istimewa semenjak suara-suara senjata sering menemani hidupnya, tempat ini sudah menjadi kuburan masal bagi kenangan yang masih berserakan di luaran sana. Kekayaan menjanjikan masalah disetiap jengkal tanah kami beberapa kilometer dari rumahku. Aku berjalan menyusuri jalan kenangan, sebelum semua berubah menjadi angker, aku melihat jendela berbekas darah yang telah kering. Seorang ibu yang menggendong anaknya terlentang tak bernyawa, seluruh pelosok di kota ini tak ubahnya kota mati. Tanpa sadar aku sedang berjalan di atas tumpukan mayat, nyaris tak ada tanah tanpa mayat yang memenuhi sepanjang jalan.
Sebelum peristiwa itu terjadi, matahari telah keluar dari persembunyianya. Ia memberi harapan bagi siapa saja yang ingin merasakan cahayanya, cahaya itu menembus kaca dan memantul ke retina mataku. Tak ada sesuatu yang indah bagiku selain merasakan kekuatan alam di luar rumah. Aku melihat harapan hidup yang begitu tenang saling berbagi rasa lewat secangkir kopi, saling melempar senyuman dengan tulus, bahu membahu satu sama lain menjadi ciri khas dari kota kami. Budaya tolong menolong menjadi sesuatu yang biasa bagi kami, tanah yang subur, iklim yang seimbang menjadi pelengkap dari segala sesuatu yang terlihat kurang. Aku tak tahu sejak kapan peristiwa itu terjadi. Aku menyusuri jalan yang kuanggap aman dari semua kenangan yang ingin memanggilku pulang. Ia melambaikan tanganya dan berkata untuk apa bertahan di kota ini, kota yang memikul beban masa lalu dari penghuninya yang semuanya mati dalam kondisi yang sama. Mereka mencari teman untuk hidup dalam dunia kematian. Satu persatu gemuruh rasa yang telah meluap bertemu di ujung jalan yang dulunya mereka pakai untuk bercinta. Nafsu meletup, mata merekam semua peristiwa na’as itu. Tiga kali aku meraung kesakitan yang diujung simpulnya di bungkus oleh kenikmatan telah menunjukkan betapa perkasanya dia menjamah setiap sudut kehormatanku. Sesaat sebelum aku merasakan kenikmatan tepat di sampingku, aku melihat seorang lelaki paruh baya sedang tertawa sambil memandangi tubuh anaknya yang cacat, entah apa yang membuatnya menertawakan anaknya sementara di sampingnya ada wanita lain yang hampir mencapai kenikmatan tabu. Di tempat lain peristiwa yang sama memang sering kali terjadi, sepertinya kota ini memang menyukai kenikmatan yang tiada henti.
Kepalaku ditikam oleh sengatnya matahari, sementara sebagian orang belum selesai memakamkan kenangan mereka. Dibahu-bahu jalan kenangan itu berserakan bersama kisah yang belum dirampungkan. Mataku tak mampu menangkap peristiwa tragis itu, peti-peti yang sudah disiapkan seolah ingin menampung segala rasa yang sedang menggantung. Ada yang ditinggal kekasihnya, sementara mantannya sedang bersenggama dengan adiknya ditempat lain. Sepanjang ingatanku rindu akan kenikmatan itu kerap kali ingin memanggilku pulang. Aku coba menyelami semua peristiwa yang membuat tubuh ini menggigil, ada pergolakan batin yang menghantui separuh perjalanan hidup. Setiap masalah yang datang sejatinya ia ingin membesarkan hidup seperti sebuah pohon yang memberi teduh bagi para penghuninya. Aku tak menemukan jejak langkahnya, ia bersembunyi di balik ingatan yang membuatnya kuat, kenangan yang dulu pernah ia kubur rapat-rapat kini mejadi cambuk waktu dalam dirinya. Ia harus mampu membuat setiap pelosok di negeri ini harus haus akan darah dan keserakahan, sama yang seprti ia lakukan beberapa tahun silam. Telah lama ia memenjarakan ingatan itu dalam sepinya. Waktu telah menebas setiap peristiwa hidupnya, ia tak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya.
Dia berlari kembali dalam ingatanya tentang kisah orang-orang terdahulu, sementara moncong senjata kini telah mendarat di kepalanya. Nafasnya beradu cepat antara ingatan dan ketakutan yang kini ingin menerkamnya. Peristiwa itu membuatku hampir merenggut sebagian hidupku. Senjata itu tak bertuan, entahlah dari kolong mana ia muncul dan meneror kepalaku. Mataku yang rabun tak bisa menjelaskan bagaimana bentuk senjata itu. Aku berkhayal dalam khayalanku, jika senjata itu adalah senjata yang dipakai oleh orang-orang yang dulu menembak kami sewaktu kami sedang bersantai di dalam rumah. Senjata itu yang di pakai untuk melucuti pakaian yang ku gunakan, aku benar-benar merasakan moncong dari senjata itu telah menari-nari di badanku. Bibirnya telah menjamahi setiap inci dari tubuhku, sampai kepada titik dimana celanaku yang sobek ia lucuti hingga sobekanya kini terlihat jelas seperti peta pulau kalimantan.
Ketakutanku kini seperti mempunyai aliansi yang nyata dalam keheningan kota ini, aku tak melihat satupun mereka yang berseragam, namun aku merasakan jejak kaki mereka dalam kota ini. Aku merasa banyak senjata yang menumpuk dalam jejak langkah mereka, tanganku tanpa sengaja menyentuh bagian senjata itu. Tiba-tiba ada yang datang dalam memory ingatanku ketika tanganku tepat menyentuh bibir senjata itu, aku ingat betul saat-saat itu. Waktu itu kami adalah kerumunan terakhir dari beberapa camp yang di tawan, di mana camp-camp sebelumnya telah mati karena di tembaki oleh senjata yang tak bertuan. Kami gemetar, gugup dan mengigil karena kini camp kami telah dipenuhi oleh genangan darah di mana-mana. Darah itu berasal dari camp-camp yang jaraknya tidak jauh dari camp kami. Sebelum senjata itu mengancungkan bibirnya ke hadapan kami, terlebih dahulu dia ingin bertanya, siapa di sini yang menjadi pejabat pemerintah..? sesaat suasana menjadi hening ketika mereka mendengar pertanyaan itu, sedangkan aku sedang mengingat sesuatu tepat sesaat telingaku mendengar pertanyaannya. Sial itu adalah pertanyaan yang sama yang pernah aku dapati dalam mimpiku, kenanga dialah yang hadir dalam mimpiku dan dia juga yang menanyakan pertanyaan itu, dalam mimpi itu dia berkata bahwa aku adalah pemilik senjata itu.
Dalam ceritanya dia berkata bahwa senjata itu tak pernah kehabisan peluru untuk para koruptor. Setiap ada koruptor maka pelurunya akan terisi otomatis. Jalan-jalan yang basah mulai kering begitupun dengan kenangan kita, tapi belum ada satupun yang menjawab pertanyaan itu. Dia bosan dengan keadaan yang membisu padahal ada begitu banyak mata yang diam ketika melakukan pekerjaan kotor itu. Mereka malah sibuk bersama untuk menyusun sebuah rencana besar, yakni melegalkan pekerjaan itu nantinya. Seperti kerumunan serigala, ternyata mereka para koruptor negeri ini bisa berjamaah juga dalam mesjid. Dengarkan baik-baik aku ingin menjawab sendiri pertanyaan yang kuberikan untuk kalian tadi, mayat-mayat yang kalian temui di jalan ataupun di camp dari anak-anak sampai yang sudah tua mereka semua adalah generasi koruptor dinegeri ini. Mereka yang memancing huru hara hingga terjadi kekacauan di kota ini, jadi biarkan mereka mendapatkan hadiah kematian dariku. Apakah kalian tahu sebelum aku menembaki mereka apa yang mereka lakukan..? Mereka sedang menyiapkan kuburan masal bagi kalian dengan menjual beberapa tanah di negeri ini. Jadi sebelum itu semua terjadi, biarkan aku membuat kuburan untuk memakamkan diri mereka sendiri dengan membiarkan mayatnya berhamburan di atas tanah dan habis di makan oleh ulat. Jika kalain tidak senang silakan arahkan senjata kalian kepada keturunanku, jika kalian dapati dia melakukan hal yang sama seperti kalian, mungkin itu jalan kematian yang pantas untuk para koruptor. Aku teringat akan pesan Kaka Slank dalam sepenggal lirik lagunya: ”hidup sederhana tak punya apa-apa tapi banyak cinta, hidup bermewah-mewahan punya segalanya tapi sengsara seperti para KORUPTOR.
Safitra Awamahua
Ambon-2021
Komentar
Posting Komentar