Retakan Cermin


Di jalur bebas pergi, ia manyaksikan kepergian di tubuhnya. Semut dan nyamuk kadang juga lalat sesekali hinggap lalu pergi. Bukan bangkai, tetapi sesuatu menguar begitu saja.

Ia pasrah saja ketika melihat dirinya meninggalkan tubuhnya, seseorang dari jendela tetangga berujar pelan hampir tak terdengar.

“aku baru melihat kepergian semacam itu seumur-umur”.

Menembus ego nan angkuh, ia bernalar keras-keras. Katanya ia yang paling punya itu titik!

Seseorang lagi dari jendela rumah paling ujung ikut menambahi, biar kau gantungkan sesuatu paling ideal pun dan paling menurut orang lain pun!. Agar terhindar dari semua itu. tidak mungkin!. Dunia ini sudah penuh dengan omongan seperti itu. di matamu memang tidak berguna, tetapi bagi orang lain itu cukup jadi tema menghabiskan waktu luang.

Percuma, akan selalu bermakna ganda pada kacamata selain kacamatamu. Iya memang, kamu dan aku sama di buku-buku agama yang sering kita baca itu. aku tahu isi tafsirannya jelas ngomong itu, tapi tetap saja berbeda.

Dendam adalah kereta cepat yang tiap waktu melintas di jalur kepalamu. “Iya maaf.. tetapi tetap saja sesuatu yang menyimpan bekas adalah ingatan”. Katamu sekali waktu.

Setiap kali ia bangun pagi setiap kali juga ia terngiang kejadian-kejadian itu, peristiwa-peristiwa itu. ia sangat sukar untuk melupakannya, sebab semenjak peristiwa itu ia sudah lupa bagaimana cara melupa.

Nahasnya, ia perna berfikir dan berniat entah dari mana semua itu. ketika menjelang tidur ia berharap mungkin ada baiknya aku tidur dan tak bangun-bangun lagi agar ingatanku terbebas dari potret kejadian ini, ia bermohon pada dirinya sendiri.

Tetapi ketika pagi datang ia terbangun dan semuanya nihil, lagi-lagi pikirannya penuh dengan hal-hal itu seperti ada sesuatu dalam benaknya memanggil semua itu. kadang ia membenci dirinya sendiri. Cermin-cermin hancur di rusaknya ketika sampai pada puncak paling geram dan menyebalkan, segala sesuatu yang dapat memantulkan dirinya dihajarnya sampai berantakan. Ia murka dengan semua ini.

Kaca-kaca jendela, kaca-kaca mobil pokoknya segala yang memperlihatkan dirinya ia hajar tak mengenal ampun,. Jika matahari bisa di raih maka ia akan menghentikan matahari pada waktu siang saja, biar hari selalu siang saja, biar tak ada orang yang istirahat, biar orang-orang bekerja saja sepanjang waktu, biar tak ada hari libur, biar mereka juga tahu bagaimana menjadi dirinya.

Orang-orang yang melihat tingkahnya itu kadang memandang dengan tajam dan mengutuk-ngutuk perbuatannya tapi tak satupun yang berani untuk menegurnya. Suatu kali sekelompok orang tua membuat kesepakatan karena tak tahan lagi dengan ulahnya itu.

“ini tak bisa di biarkan, ini sudah melampaui batas, mesti ada di antara kita yang berani menegurnya paling tidak di tegur saja”. 

“Jika ia tidak bisa di tegur dengan mulut maka tak ada jalan lain selain kekerasan”. Ucap salah satu di antara mereka.”

“Tapi alangkah baiknya kita tegur saja dia, kalau dia tidak ngeh juga maka tak ada cara lain selain apa yang di katakan bapak barusan. Bagaimana teman-teman, apakah kalian setujuh!!”

“Yah, setujuh!!”

Ini benar-benar kelewatan, orang itu gila mestinya di amankan sejak sekarang sebelum  ia berulah lebih jauh lagi. Ia cepat saja mengetahui hal itu, dimana orang-orang merencanakan sesuatu yang tidak baik kepadanya, maka ia pun berfikir untuk tidak berulah lagi,. Agar orang-orang itu tidak perlu repot-repot. Memangnya aku gila, memangnya aku tidak punya otak sampai mereka bisa mempunyai niat seperti itu. dasar orang-orang yang tidak bisa bercermin. Bodoh.

Ia berdiam saja dalam rumah beberapa hari, upaya untuk menghindari rencana yang tidak baik itu. maka berdiamlah ia di dalam rumah. Tetapi itu bukan akhir dari semuanya, kalian kira aku seperti orang-orang itu, yang melakukan perubahan dengan setengah hati. “Kalian salah!” Ucapnya sinis dalam hati. Jika menginginkan perubahan mesti dengan pemberontakan dan kalian perlu tahu semua itu tidak di kerjakan dengan setengah hati.

Aku akan dirumah saja beberapa hari, biar niat mereka redah atau bahkan redup dari dada kalian yang busuk itu. aku akan keluar dan memberontak dengan cara lain, tentu saja kalian tidak akan pernah tahu atau bahkan memahaminya. Sebab aku tidak akan membuat rencana, aku tidak suka dengan rencana, salah satu kesalahan manusia ketika menginginkan perubahan adalah ketika mereka membuat rencana. Mereka mesti paham bahwa rencana sumber dari datangnya masalah. informasi kadang bocor karena sebuah rencana itulah kenapa perubahan selalu gagal total.

Bebarapa hari kemudian datanglah sebuah informasi dari seseorang yang dikirimnya menjadi telinga dan mata di antara orang-orang yang berniat buruk kepadanya. Dan menurut informanya itu adalah kabar baik kepadanya. Maka ia keluar dan menjalankan aksinya itu di waktu malam,. Di lihatnya seisi dalam wilayah itu sudah penuh dengan cermin. Di pintu masuk wilayah terdapat cermin berukuran raksasa, di bibir jalan, di gang-gang, di pertigaan jalan atau pun di perempatan jalan cermin-cermin besar berdiri seperti patung pahlawan bertopeng.

Di tinjunya dengan kekuatan penuh, salah satu cermin-cermin itu sampai bertebaran di tengah jalan. Ia kembali murka sambil meludah “puh! Bodoh!” Untuk apa mendirikan cermin yang banyak kalau bercermin saja tidak bisa. Dasar goblok. Ucapnya dengan sangat geram. Semua cermin dalam wilayah itu pecah dan berhamburan dalam satu malam. Ia pun pulang dengan tenang setelah mengeluarkan seluruh hasrat memberontaknya itu. tentu saja tanpa meninggalkan bukti apa-apa, hanya orang-orang bodoh yang melakukan hal semacam itu dan meninggalkan jejak” ucapnya dalam hati. Ketika dalam perjalanan pulang.

Ia masuk ke dalam rumahnya mencuci kaki lantas menujuh Kasur dan tertidur. Ia tak lagi memikirkan apa reaksi orang-orang jika melihat perbuatannya itu. baginya itu tidak perlu di pikirkan sebab sudah pasti orang-orang akan murka dan seperti biasa memaki-maki, mengutuk-ngutuk tidak jelas siapa yang di kutuk.

Pagi-pagi sekali orang-orang sudah berhamburan menyaksikan hasil pemberontakan semalam,. Orang-orang tumpah dari dalam gang-gang kecil sampai di jalam utama, ada yang kakinya sobek karena bekas pecahan cermin itu dan ada pula yang di larikan ke rumah sakit. Tapi percuma saja rumah sakit bukan tempat untuk menyembuhkan para pengidap penyakit hati. Luka sobek boleh di tambal tapi sobekan hati sabar dulu!.

“Ini tidak lain dan tidak bukan, pasti lelaki tidak waras itu yang melakukan semua ini”. dengan lantang salah seorang berucap dari tengah kerumunan masa pagi itu.

Kamu tahu dari mana buktinya apa?” salah seorang meragu.

“dialah yang memecahkan cermin beberapa hari lalu dan memecahkan beberapa kaca mobil yang di pakirkan di bibir jalan, saya sangat menaruh kecurigaan pada orang aneh dan gila itu”.

“iya, kami ikut menyaksikan bagaimana orang yang bapak maksud itu merusak kaca mobil dan beberapa cermin di samping jalan ini”. Ujar salah seorang.

“Bagaimana kalau kita pergi saja kerumahnya dan menayakan tentang kejadian ini”

Menanyakan atau menuduhnya” ujar salah seorang.

Kamu bodoh yah.. apa salahnya kalau menaruh curiga pada orang yang memang sudah pantas di curigai”.

Iya, kita harus ke rumahnya sekarang juga titik. Bahkan kalau bisa kita kesana dengan membawa polisi saja, biar orang gila itu di tangkap saja.

Tak lama kemudian orang berkerumun di depan teras rumahnya. Ia masih lelap dalam tidur ketika orang-orang itu datang. Sampai juga ketelinga orang tuanya setelah mendengar kerumunan orang di depan rumahnya itu.

“Ada apa ramai-ramai di sini?” Tanya ibunya pelan.

“Apakah orang aneh itu anak ibu, jika benar maka jangan sembunyikan anak ibu” ucap seorang dalam kerumunan itu.

“Siapa yang bapak-bapak maksud saya tidak paham?”

“Orang aneh dan gila yang telah merusak cermin dan kaca mobil beberapa hari lalu dia juga telah merusak fasilitas umum berupa cermin di wilayah dan kompleks ini.”

“Oh, beberapa hari lalu memang perbuatan anak saya. Tapi perbuatan semalam saya tidak yakin itu adalah perbuatan anak saya. Apa buktinya kalau itu perbuatan anak saya? Sementara saya sudah seminggu mengurung anak saya di dalam kamar saya bahkan menguncinya dari luar kamar, ini saya pegang kunci kamarnya?” Ucap ibunya sambil mengulurkan kunci di genggamnya itu.

“kalau kalian tidak percaya periksa saja sendiri di kamarnya!” sambil membuang kunci ke arah kerumunan orang-orang itu.

Maka mereka dengan tanpa permisi mengeceknya dalam kamar setelah membuka slot kamar itu. ketika itu juga mereka tercengang ketika melihat anak itu masih tertidur pulas di atas ranjang. Kerumunan itu bergantian melihatnya seperti orang yang tengah melayat di rumah si kabung.

Kerumunan itu pun berbalik keluar rumah dengan tak mengatakan sekatapun dari mulut mereka hanya bunyi gesekan sendal saja yang berderap di atas lantai. Lalu ibunya meminta maaf pada kerumunan itu  atas perbuatan anaknya seminggu yang lalu terutama pada mereka yang telah merasa di rugikan dan ibunya berjanji akan menganti rugi semua itu. tapi ia sekali lagi sangat memohon untuk di maafkan perbuatan anaknya.

Kemudian ia bercerita tentang kenapa anaknya itu bisah melakukan hal buruk  dan merugikan orang lain seperti itu. bahwa ceritanya panjang beberapa bulan lalu anaknya itu di tinggalkan kekasihnya, katanya kekasihnya pergi bersama orang lain yang konon orang itu adalah orang yang suka bercermin.

“Maskud ibu apa, hubungan cermin dan dia apa?”

“Banyak orang suka bercermin tapi tidak semua orang bisa melihat dirinya sendiri”

 

Ambon 2021


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Kosong

Kota Para Koruptor